Profil NCC
    Kitchen Community
    Ngobrol dong..
    Resep
        Masakan
        Kue
        Dessert
    Buku
    Highlight
    Tips
    Artikel
    Info Dapur
    Kursus
    Latest Event
    NCC Online Events
    NCC on the Record
    Tarif Iklan
    Q & A
  Kapan? Dimana? Ngapain aja sih NCC itu? Kegiatan apa yang diadakan NCC?  
 

 

 

 

Important Links: Cara Pendaftaran Kursus | Arsip Lama

 
Thursday, 15 February 2007
Bumbu Rahasia
Mengintip Peluang dalam Berjualan Makanan
:: Penulis : Lia (mylianov atgmaildotcom)
 

Tempat-tempat  makan dengan signature dish yang super terkenal sampai-sampai menjadi icon tempat makan tersebut, selalu saja mengundang rasa penasaran yang luar biasa. "Hmmm... ini bebek goreng dibumbuin apa sih kok aku tidak pernah bisa bikin yang empuk & gurihnya sampai seperti ini?" atau, "gimana ya cara bikin kulit pisang ponti sampai kayak sarang semut gitu? bisa tidak ya coba sendiri di rumah?"

Selalu penasaran, karena rasanya mantab, atau rasanya  biasa tapi penampilannya unik. Lalu tertarik untuk mencoba bikin di rumah, tapi tidak pernah bisa sama.

Ada bumbu rahasianya kali yaaa....?

Benar sekali, kebanyakan mereka memiliki formula rahasia yang tidak dibagikannya kepada siapapun karena alasan kompetisi bisnis, sehingga bermunculan resep-resep  copycat. Kalo hasilnya tidak terlalu sama persis masih dimaklumi, namanya juga berusaha mirip. Kalau bisa persis, seneng banget. Nah kalau justru lebih enak... bisa jadi saingan baru! kenapa tidak ?

Kalo di milis NCC (naturalcookingclub@yahoogroups.com) lagi ramai copycat Brownies Kukus Amanda, donat JCo, rerotian BreadTalk, berbagai versi copycat bertebaran, ada yang mirip, persis bahkan lebih enak.
Dari sisi penjual sendiri, formula rahasia menjadi senjata ampuh untuk menjaga kelangsungan bisnisnya. Jarang sekali ada yang rela membagi resep hasil eksperimen bertahun-tahin yang dilakukan dengan penuh "trial & error" plus mengeluarkan banyak dana.

Sempet ngobrol ama Rina Rinso dari milis NCC mengenai sate ponorogo Pak Tukri yang sangat beken di ponorogo, sampai-sampai sering ekspor satenya keluar kota pakai travel. Menurut Rina, Pak Tukri mempersilahkan siapapun yang datang ke "workshop"nya untuk melihat proses pembuatan satenya, bahkan saat musim ramai Pak Tukri mengerahkan tenaga tambahan untuk membuat satenya. Dan disana tidak ada rahasia-rahasiaan, tidak ada satu proses tertentu yang dikerjakan di ruangan tersendiri oleh Pak Tukri, atau ada bumbu tertentu yang berbentuk ramuan khusus. Semuanya dibuat bener-benar" from scratch" oleh anak buahnya, dan bisa dilihat langsung oleh pengunjung.
Lalu apakah Pak Tukri kemudian mendapat pesaing ketat hingga pengunjungnya berkurang akibat keroyalannya tidak menutupi rahasia satenya? TIDAK! Pak Tukri tetep menjadi icon sate ponorogo.

Ada juga Penjual lainnya, Pak Bagong, tapi tetap tidak mengurangi rejeki Pak Tukri. Ah, ini keywordnya... rejeki! Rejeki orang udah ada jalurnya masing-masing, kurasa itu pedoman Pak Tukri yang tidak kuatir rejekinya berkurang karena tidak punya rahasia apa-apa.
Perintis pisang goreng ponti itu juga termasuk orang yang sangat generous dalam membagi rahasianya. Tidak ada rahasia, resep & trik-triknya dibuka lebar terbentang bahkan sampai menerbitkan buku versi home industry mengenai pembuatan pisang ponti dan variasinya.

Lalu ada juga seorang lagi,  aku lupa nama persisnya, aku baca di Wacana Mitra. beliau penjual mie ayam yang merintis dari nol dan sukses. Beliau menerima siapapun yang ingin belajar membuat mie dan racikan topping ayam darinya, bahkan diajaknya jualan bareng-bareng. Rejekinya tidak berkurang, bahkan terus mengalir sehingga memiliki pasukan tukang mie ayam, yang mie & racikan ayamnya mereka produksi bersama.

Lepas dari masalah keterbukaan resep, coba kita melihat dari sisi yang lain. Restoran-restoran besar sudah pasti merahasiakan dan mempatenkan resep andalannya.Dulu hanya kolonel sanders yang bisa bikin ayam goreng tepung yang lezat, dagingnya juicy dan bumbunya meresap. Resepnya tentu dirahasiakan. Tapi lihatlah sekarang, ibu2 rumah tangga pun bisa membuatnya. Restoran-restoran fried chicken juga jadi pandangan umum dimana-mana.
Lalu apa yang bisa mempertahankan KFC tetap berdiri? Diversifikasi produk! Fried chickennya udah ngga bisa diandalkan, tinggal mengandalkan kreatifitas agar tetap bisa mengais uang. Jual sup, nugget, burger sampai tortilla bermerk twister isinya ayam goreng andalannya, tapi udah dipermak jadi macam-macam suguhan itu.

McD lebih pintar. Selain melakukan diversifikasi menu untuk tidak terlalu mengandalkan burgernya, McD memberikan banyak added value kepada konsumen. Catat: pelayanan super cepat plus kompensasi bila dalam waktu sekian detik tidak selesai terlayani dengan memakainjam pasir kecil disetiap kasir, dengan setting waktu lebih kurang satu menit.
Setting suasana yang nyaman yang bikin orang betah duduk dan ngobrol berlama-lama meski makanannya sudah abis. Dengan memperhatikan jenis kursinya sangat nyaman untuk kita duduk berlama-lama disana dan lokasi yang strategis untuk ketemuan,  beda sekali dengan restoran fastfood lain yang ingin pengunjungnya benar-benar "fast" dine in.
Maka, bila resep rahasia tidak lagi bisa diandalkan, menu-menu utama tidak lagi menjadi incaran, lagi-lagi berikan added value yang membuat konsumen jadi loyal sekaligus mampu menarik konsumen baru!

Bagaimana dengan home industry ato warung rumahan?Haruskah menjadi paranoid kuatir jatuh karna racikan rahasianya di-copycat?

Nasi udang Bu Rudy udah banyak tiruannya, lengkap ama sambelnya juga. Tapi Bu Rudy tetap tegar berdiri bahkan buka cabang dan sambal serta udangnya sampe ekspor ke agen-agen di Jakarta.
Jaman dulu saat nasi bebek belum menjadi trademark Kota Surabaya, Bebek Goreng HT di karangempat menjadi perintis bebek goreng yang bisa empuk dan gurih bebas anyir. Lalu kemudian bermunculan nasi-nasi bebek yang menjamur di seantero Kota Surabaya, Bebek Goreng HT tetap laris dan pembelinya ngantri, bahkan udah buka cabang juga (kalau tidak salah di daerah HR Mohamad).
Apa yang membuat HT dan Bu Rudy tetap eksis ditengah persaingan ketat dan jenis produk yang sama? Ciri khas! Inilah yang selalu dikangeni orang.

Bu Rudy yang ramah selalu berusaha melayani sendiri para pembeli (beliau yang menjaga kasir ), sambel setannya sulit ditandingi. Kalaupun sudah banyak tiruannya, tetap saja sambal setan identik dengan Bu Rudy, sehingga yang dicari adalah, "asli Bu Rudy bukan?". Padahal, Bu Indra udah lebih dulu bikin nasi udang, dan jaraknya hanya selemparan batu dari Bu Rudy, dan -menurutku- lebih enak masakan Bu Indra. Tapi Bu Indra kalah strategi marketing dari Bu Rudy. Strategi sederhana yang bisa dilakukan siapa saja.

Moral yang bisa diambil dari kontroversi bumbu rahasia adalah, jangan mengandalkan bumbu rahasia! Para copycatter diluar sana seabrek-abrek siap membongkar rahasia kita. Berjualanlah dengan hati dan keyakinan, rejeki tidak akan kemana! Selalu gali kreatifitas untuk menampilkan hal baru baik dari sisi menu ataupun strategi berjualan.

Nah, kalo bumbu rahasia susah diandalkan, tidak ada gunanya nyimpen rahasia kan? Bisakah kita meneladani Pak Tukri, Pak Pisang Ponti, dan Pak Mi Ayam seperti cerita diatas? Menebarkan ilmu sambil berbagi lahan rejeki dengan orang lain. Mudah-mudahan kita bisa meneladani beliau-beliau, sekaligus meneladani hoki beliau.
Tulisan ini sama sekali tidak bermaksud memprovokasi tukang jualan untuk membongkar resepnya, juga bukan untuk menyudutkan mereka yang menjaga ramuan rahasianya, sama sekali bukan, itu adalah hak asasi si pemiliknya. Ini hanya motivasi bagi para pemula, seperti saya untuk membuka mata bahwa banyak sekali cara untuk untuk maju dan berkembang tanpa bergantung pada satu point of selling aja.

Photo: Exclusive

 
–› index Artikel
 

Important Links: Cara Pendaftaran Kursus | Arsip Lama